Senin, 30 Mei 2011

Ketika Suami di Tinggal Istrinya Untuk Jadi TKW

ni anak siapa?

SUSAHNYA mencari pekerjaan karena sempitnya lapangan kerja di negeri ini menjadikan luar negeri sebagai tempat untuk mencari penghidupan yang lebih baik.  Sudah berpuluh tahun bangsa ini tercatat sebagai pengekspor terbesar tenaga kerja nonskill ke luar negeri, terutama ke wilayah asia timur dan timur tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, UEA, Jepang, Korea, Singapura dan negara-negara di seantero benua asia lainnya.
Kebanyakan dari mereka adalah kaum perempuan (TKW-red), hampir tiap tahun ratusan ribu perempuan pergi ke luar negeri untuk mengadu nasibnya.  Mereka mengakui bekerja sebagai TKW bisa menghasilkan uang yang berlimpah dan berlipat ganda, ringgit, real atau dolar lebih menggiurkan keinginannya dibandingkan dengan rupiah yang memang susah di dapat di sini.
Oleh karenanya jasa tenaga kerja pun bermunculan bak jamur dimusim penghujan.  Persyaratannnya pun semakin hari semakin longgar saja, cukup menyetor beberapa juta saja, bisa segera bekerja di luar negeri.
Hampir semua daerah di negeri ini ikut berpartisifasi mengekspor tenaga kerja ke luar negeri, tak terkecuali dengan Kabupaten Cianjur ini.  Sebagai daerah yang memiliki angka kemiskinan sekitar 241.248 kepala keluarga (Renstra Pemkab Cianjur, 2000) dari jumlah 489.432 KK penduduk Kabupaten Cianjur atau sekitar 49 %, tentunya menjadi TKW adalah pilihan terakhir.
Para TKW biasanya berasal dari dearah pelosok, hampir tiap tahun selalu saja ada perempuan yang pergi ke luar negeri untuk mengais ringgit atau real.  Jika pulang membawa uang tentunya hal itu bisa menggoda tetangganya, hingga tetangganya itu berhasrat ingin jadi TKW juga, begitu seterusnya, makin bertambah dan tak terkendali.
Meskipun banyak kejadian yang tidak menimpa para TKW tersebut, dari sekedar perlakuan tidak adil sampai yang tragis, seperti diperkosa atau dibunuh.  Namun jumlah TKW sepertinya tidak pernah berlangsung surut, malah makin bertambah dan terus bertambah jumlah pendaftarnya.
Kebanyakan dari mereka sudah bersuami bahkan ada yang memiliki beberapa anak.  Para suami yang ditinggalkan istrinya yang bekerja sebagai TKW tentunya menanggung beban tersendiri, selain hidupnya dibiayai oleh sang istri, rasa kesepian akan setia menemaninya sekurangnya selama dua tahun lamanya, itu pun kalau istrinya tersebut tidak memperpanjang kontrak kerjanya lagi.
Lantas seperti apa nasib dan bagaimana perasaan para suami TKW ini?.  Berikut ini beberapa kisah dari para suami yang ditinggal istrinya jadi TKW.  Ada kisah sedih, miris, sampai cerita menggelitik.
Junaidi (30) misalnya, –bukan nama sebenarnya–, bapak satu anak ini sejak tahun 2002 ditinggal istrinya bekerja di Abu Dhabi.  Suami dari Rukayati (27), –nama samaran– yang tinggal di Kampung Tugusari Karangtengah Cianjur ini sempat kaget mendengar niatan istrinya untuk menjadi TKW, pasalnya usia pernikahan mereka yang belum genap setahun dan anak balita satu-satunya yang masih membutuhkan kehadiran ibunya tentu menjadi faktor keheranan Junaidi.
Namun heran tetap saja menjadi sebatas kening mengernyit, karena toh istrinya jadi juga pergi ke luar negeri.  Alasannya hanya satu, ingin membantu mencari nafkah bagi keluarga.  Padahal diakui Junaidi, meskipun hanya sebagai pengojek namun tiap bulan dirinya tidak pernah absen kirim uang dapur pada istrinya.
Hingga saat ini Junaidi genap ditinggal istrinya 2 tahun, dan tiba pada tahun yang telah dinanti-nantikan dirinya, Rukayati sang istri akan segera pulang karena kontrak kerjanya hanya dua tahun.  Junaidi pun siap-siap menyambut sang istri yang dirindukannya itu beserta para tetangganya yang juga menunggu salah seorang keluarganya yang juga jadi TKW.
Jelang sore hari istrinya datang bersama rombongan TKW sesama kampung, anak-anak tetangga yang melihat kehadiran ibunya langsung memburu dan merangkul haru, Junaidi pun sebenarnya ingin memburu istrinya lantas merangkulnya erat, kalau perlu langsung “membantingnya” ke atas kasur, namun karena jaga wibawa Junaidi hanya tersenyum saja menyambut kedatangan Rukayati; rindu.
Akan tetapi di tengah rasa rindu yang menggebu mata Junaidi dikagetkan oleh kehadiran seorang anak kecil dalam dekapan istrinya, Junaidi pun bertanya, namun istrinya berjanji akan menjelaskannya setelah tiba dirumah.
Tiba dirumah, mereka langsung disambut oleh sanak saudara dan kerabat terdekat, maklum saja Rukayati sudah pasti membawa segepok Real.  Setelah semua sanak saudaranya pulang, Junaidi kembali menanyakan perihal anak tersebut, Rukayati pun bercerita panjang lebar yang intinya anak tersebut adalah anak majikannya.
Kontan saja Junaidi dibuat heran, logikanya tidak bisa menerima penjelasan istrinya itu, kenapa seorang majikan berani menitipkan anaknya pada pembantu?.  Lagipula jika memang cerita Rukayati itu benar, itu berarti pertanda bahwa istrinya akan kembali lagi ke Abu Dhabi.
Junaidi pun mendesak istrinya untuk berkata jujur, namun Rukayati keukeuh peuteukeuhpada ceritanya, hingga perdebatan sengit dan pertengkaran mulut pun terjadi.  Junaidi mencium bau pengkhianatan, namun dirinya tak bisa berbuat banyak, ingin marah namun setoran tiap bulan yang kerap diberikan istrinya rupanya telah membungkam ego kelaki-lakiannya.
Daripada pusing, Junaidi pun pergi keluar lantas nongkrong di warung kopi dekat rumahnya menenangkan hati.  Rupanya bukan dirinya saja yang bertanya-tanya perihal anak tersebut, sanak saudara dan para tetanganya pun dibuat heran dan bertanya-tanya pula, bahkan tidak sedikit yang langsung mengambil kesimpulan sendiri.  Melihat hal tersebut Junaidi pun menjadi malu dan tidak enak hati.
Dua hari setelah istrinya pulang, kehadiran anak tersebut dalam keluarga Junaidi rupanya masih menjadi bahan gosip para tetangga, tentu saja Junaidi dibuat panas telinga, apalagi tidak sedikit dari mereka yang mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut adalah anak Rukayati dari majikannya.
Dengan perasaan durja Junaidi pun kembali menanyakan perihal anak tersebut pada Rukayati istrinya, namun karena mendapatkan cerita yang sama, Junaidi tak bisa mengendalikan emosinya.  Saking berangnya kata-kata cacian dan ancaman pun keluar dari mulutnya.  Melihat suaminya seperti itu Rukayati hanya mampu menjawabnya dengan tangisan.
Melihat istrinya menangis seperti itu, dia jadi heran apalagi saat kata maaf meluncur dari mulut istrinya, Junaidi serasa mendengar halilintar di siang benderang.  Lelaki perantauan ini hanya terpaku memandangi istrinya, tanpa daya dihempaskan badan tirusnya ke atas kursi.  Meskipun bau pengkhianatan makin kentara saja tercium namun Junaidi hanya diam memandangi Rukayati yang sedang menangis sesenggukan sambil tak bosan-bosannya mengucapkan kata maaf padanya.
________
Pulang TKW Langsung Minta Cerai
Menjadi pasangan suami istri karena “kecelakaan” tentu merupakan beban tersendiri bagi yang mengalaminya.  Namun toh itu telah terjadi, dan benih telah bersemayam di dalam rahim sang gadis.  Maka pernikahan pun di gelar, tentunya tak sesakral pernikahan pada umumnya, hanya dihadiri beberapa kerabat dekat dan sanak saudara.  Bukan untuk menghemat biaya namun sekedar untuk menutup aib semata.
Amarah dan murka orang tua akhirnya reda sudah saat Asep (21) –nama samaran–, akhirnya dinikahkan juga dengan pacarnya, Siti (19) –juga nama samaran–, mojang asal Leles Karangtengah.
Semenjak menikah, paradigma berfikir Asep tentunya berubah 180 derajat, dari anak muda yang suka nongkrong dan hidup seenaknya tampil menjadi lelaki yang punya tanggung jawab.  Apalagi saat sang buah hatinya lahir kedunia, Asep pun menjelma menjadi seorang suami sekaligus ayah.  Jadilah kedua belia itu menjalin hidup bersama sebagai sepasang suami istri pada sepetak rumah kontrak.
Dengan ijazah SMA yang dimilikinya, Asep pun lantas bekerja sebagai salah seorang karyawan di sebuah pasar swalayan.  Namun sang istri, Siti rupanya tidak puas dengan penghasilan Asep yang cuma 250 ribu itu, apalagi melihat teman-teman sebayanya sudah bisa membangun rumah bati kerja jadi TKW di luar negeri.
Melihat kenyataan itulah mendorong Siti ingin jadi TKW, Asep tentu saja keberatan, dia tidak ingin istrinya bekerja, apalagi menjadi TKW ke luar negeri.  Selain ada anak yang masih butuh kehadiran ibunya, Asep menilai keinginan Siti tersebut sama saja menghancurkan kebersamaan rumah tangga mereka.
Namun Siti tidak patah arang, terus mendesak sampai melibatkan orangtuanya.  Asep pun akhirnya menyerah, ijin pun diberikan pada istrinya untuk berangkat ke Singapura menjadi babu Indonesia.
Bercita-cita ingin menjadi seorang bapak dan suami yang sempurna, Asep keburu menjadi suami tanpa istri, apalagi saat mertuanya meminta anak satu-satunya untuk tinggal dirumah mereka.  Hidup Asep pun layaknya kembali bujang, makan sendiri, makan sendiri dan tidur sendiri pula.
Seperti orang yang ditinggal mati saja, hidupnya menjadi tidak bergairah, semangat kerjanya menurun, sering bolos dan kerap mangkir dari tugas, sehingga belum genap satu tahun bekerja, Asep pun dirumahkan (dipecat-red) dari tempat kerjanya.  Jadilah Asep pengangguran sejati, hidup tanpa beban tanggung jawab.
Kesehariannya pun seperti sediakala sebelum menikah dengan Siti, nongkrong dengan teman sebayanya, dan main sana kemari menghabiskan waktu.  Sedangkan biaya hidupnya sehari-hari di dapat dari kiriman uang sang istri, itu pun setelah di audit oleh sang mertua.
* * *
Dua tahun waktu pun berlalu begitu cepat baginya, sang istri yang dirindukan akan segera pulang karena habis kontrak kerjanya.  Tiba pada hari yang dinantikan, Siti pulang membawa setumpuk dolar Singapur, buat keluarganya dan tentu saja buat sang suami tercinta.  Haru biru berbaur rindu beraduk dalam diri Asep saat menyambut kedatangan istrinya.
Asep pun tidak menyia-nyiakan kehadiran kembali istrinya tersebut, saat malam menjelang dan dingin meradang, Asep minta obat rindu pada Siti.  Adalah hal yang wajar baginya sebagai suami dan lelaki normal.  Namun tanpa dinyana sang istri menolak ‘ajakannya’ tersebut.
Meskipun dengan cara halus, namun penolakan tersebut agaknya menggangu pikiran Asep, ada apa dan kenapa?, namun Asep tak berani menanyakan perihal tersebut secara langsung pada istrinya.  Malam itu pun berlalu dengan dengkuran saja.
Sikap Siti sekembali dari Singapura dirasakan Asep banyak mengalami perubahan berubah drastis, terkesan dingin dan suka menyela perintahnya.  Belakangan diketahui sikap istrinya tersebut dikarenakan dirinya sudah tidak lagi bekerja, jadilah mereka sepasang suami istri yang dingin dan suka bertengkar.
Percekcokan yang menggunung tersebut akhirnya meletus juga saat Siti minta pisah rumah dengannya.  Siti dan anaknya pun hijrah ke rumah orangtuanya, sementara Asep tetap mendiami rumah kontrakannya itu.
Seminggu pisah rumah, Asep dikejutkan oleh kedatangan Siti beserta orang tuanya.  Sore itulah Siti mengutarakan keinginannya untuk bercerai, dengan satu alasan sudah tidak ada lagi kecocokan.  Meskipun Asep coba bertahan untuk tidak sampai menceraikan istrinya, namun karena mendapat ‘serangan’ bertubi-tubi dari segala sisi, Asep pun pasrah menerima permintaan istrinya tersebut.
Selang 10 hari sejak istrinya pulang jadi TKW Asep pun resmi bercerai dengan Siti, dan sang anak dibawa oleh keluarga Siti.  Asep kali ini benar-benar kehilangan istri dan anaknya, dan mau tak mau dia pun harus kembali pulang ke rumah orang tuanya di Cibantala dengan membawa status duda.

0 komentar:

Poskan Komentar